Sunday, October 30, 2022

Mengarang Bebas Itu Tidak Apa-apa

Semasa duduk di bangku SD, ada suatu kalimat yang diucapkan guru wali kelas, yang masih terngiang sampai sekarang.

"Jangan takut, Nak. Pokoknya nulis, bebas. Bahasa Indonesia itu kuncinya mengarang. Mengarang bebas."

Dan, sampai saya duduk di Sekolah Menengah Atas, praktik atas kalimat itu, masih juga dilakukan. Ketika musim ujian, teman-teman saya paling santai di ujian mapel Bahasa Indonesia.

Alasannya, seperti yang guru saya bilang, Bahasa Indonesia itu mengarang bebas.

Lantas, apakah ini yang menjadi sebab nilai Ujian Nasional (UN) Bahasa Indonesia jarang sekali menang dari Bahasa Inggris?

Kita sudah mengenal Bahasa Indonesia sejak menyebut angka "satu", lho.

Sedangkan, tidak sedikit orang yang merasa repot untuk memulai belajar Bahasa Inggris, meski orang yang sama merasa bisa Bahasa Inggris itu lebih keren daripada Bahasa Indonesia.

Hm. Miris. Meremehkan, tapi tidak menguasai. Menyanjung, tapi enggan belajar.

Apa yang salah?

Mungkin banyak orang yang merasa mampu berbahasa Indonesia, namun mereka sekadar berbicara dalam Bahasa Indonesia, tapi tidak tahu sesuatu yang lebih dalam di baliknya.

Keyakinan akan "mampu berbahasa Indonesia" itu berlajut sampai dewasa. Tanpa mereka melakukan aktualisasi dalam kemampuan berbahasa mereka.

Benarkan begitu?

Rasanya, bisa jadi benar sekali. Seorang kenalan yang saya temui dalam perjalanan, pernah menanyakan hal yang sama, yang oleh puluhan orang lainnya pun bertanya: "Mengapa Bahasa Indonesia?"

Alih-alih mendukung pilihan saya karena saya berniat sungguh untuk belajar Bahasa Indonesia, mereka justru mempertanyakan, seakan memberi sugesti bahwa saya sepatutnya memilih jurusan lain yang "lebih baik dari Bahasa Indonesia".

Saya selalu menjawab ringan: "Karena saya suka Bahasa Indonesia."

Sebenarnya, itu alasan pertama yang sederhana. Ada lebih banyak alasan yang membuat saya memutuskan untuk memilih Bahasa Indonesia.

Satu di antaranya yang paling menarik, karena Bahasa Indonesia itu berkembang.

Tidak banyak yang tahu, sekitar dua bulan sebelum pengumuman hasil UN, saya sudah merasa mantap untuk memilih jurusan Bahasa Inggris. Alasannya, karena saya suka belajar Bahasa Inggris sejak saya bisa mengucapkan "How do you do, Mr. Johnson?" di kelas 4 SD, dan nilai Bahasa Inggris saya selalu berada di lingkar tiga besar teratas di setiap ujian sekolah.

Perubahan keputusan saya alami ketika mengetahui nilai UN Bahasa Indonesia saya, tidak lebih baik dari Bahasa Inggris dan IPA (tidak perlu tanya nilai Matematika, ya). Banyak teman juga mengalami hal serupa.

Merenung. Merenung. Merenung.

"Padahal saya sudah belajar. Saya yakin jawaban saya benar. Tapi, mengapa nilainya tidak sesuai harapan?"


Wednesday, October 19, 2022

Tips Meminta Kenaikan Gaji ala Barbara Corcoran

Apakah Anda seorang karyawan yang sudah bekerja bertahun-tahun? Apa impian Anda sebagai karyawan?

Kemungkinan besar, a pay rise, atau kenaikan gaji. Betul atau benar? Ya bisa jadi Anda juga berharap kenaikan jabatan, tapi bukankah kenaikan jabatan juga berarti kenaikan gaji? Intinya sama saja.



Rasanya, tidak ada karyawan yang tidak ingin gajinya naik. Apalagi yang sudah mengabdikan diri bertahun-tahun di sebuah perusahaan.

Namun, tidak banyak karyawan yang berani meminta kenaikan gaji kepada bos mereka. Jika pun berani, biasanya karena ada tawaran kerja di tempat lain, yang menjamin mereka dari penolakan si bos.

Mengerti maksudnya, kan?


Sunday, October 16, 2022

Apakah Polisi Bahasa 'Selalu' Benar?

Kemarin saya menemukan hal yang menarik dari sebuah instagram stories seorang pemilik toko daring (online shop). Ia menangkap layar percakapan dengan sebuah akun yang bernama 'Polisi Bahasa'.

Intinya, ia merasa terganggu dan tergelitik hingga menyatakan 'Jika berbahasa asing saya dicela karena salah tata bahasa, lalu sekarang menggunakan bahasa negara sendiri pun dicela karena salah tata kata, saya harus menggunakan bahasa apa? Bahasa kalbu?'

Saya pun tergelitik dengan ungkapan itu. Lalu, sampailah saya pada topik ini, yang juga menjadi pertanyaan batin saya.

"Apakah polisi bahasa selalu benar?"

Mari kita diskusikan bersama.
(Yap, saya lebih suka berdiskusi daripada berceramah. :D)


Julukan polisi bahasa masih dalam status menengah, artinya terkadang ia dibanggakan, tidak jarang ia diremehkan.

Banyak akun di instagram, twitter, facebook, dan beberapa blog yang mengkhususkan diri menjadi polisi bahasa. (Ah, Om Ivan Lanin lebih dari polisi bahasa, ia adalah Menteri Bahasa! setuju?)

Istimewa memang, dan sangat berguna terutama bagi guru dan pelajar yang berkecimpung di dunia pendidikan dengan Bahasa Indonesia sebagai medianya. Bahkan orang awam dan pekerja profesional pun turut terbantu ketika mencari tahu" yang benar 'dibaca' atau 'di baca'?


Namun, ketika beberapa orang membanggakan keberadaan mereka, di situ pula akan ada orang yang merasa terganggu. Bagaimana bisa menjadi gangguan?

Meski gangguan tersebut sebenarnya mengarahkan pada hal yang benar, orang yang merasa terganggu tidak akan membenarkannya.

Bisa jadi karena polisi bahasa merasa dirinya paling benar. Memberi tahu kebenaran dengan cara yang kurang baik bisa dinilai tidak benar di mata orang lain, bukan?

Kedua, mungkin karena polisi bahasa tidak memosisikan dirinya sebagai orang awam yang salah dan malas membaca. Orang tersebut merasa tidak perlu membenarkan bahasanya karena itu bukan bidang keahlian/pekerjaan mereka. Buat apa?

Ketiga, mungkin yang diingatkan merasa malu, lalu enggan menerima kebenaran, lalu menolaknya dengan cara abai atau mencela.


Nah, para polisi bahasa, tolong perhatikan ini. Jangan hanya karena fokus pada kebenaran, lalu kalian menjadi abai dengan orang yang salah dan enggan memosisikan diri sebagai mereka.

Polisi bahasa itu bisa saja selalu benar, dalam berteori. Mereka mungkin sebenarnya adalah orang-orang ahli di bidang bahasa yang sedang menyosialisasikan bahasa di tengah masyarakat. Mereka memiliki KBBI edisi terbaru. Mereka rajin mengaktualisasikan diri dengan kabar dan informasi terbaru tentang bahasa nasional. Mereka pula yang memiliki peran dalam menyusun konsep bertata bahasa yang baik dan benar di Indonesia. Siapa tahu?

Lalu, apakah mereka pernah salah? Sudah pasti, ya. Seperti peristiwa yang saya ceritakan di awal, polisi bahasa bisa saja salah. Salah dalam berkomunikasi. Salah dalam menyampaikan teori. Kurang lugas, kurang sopan, atau mungkin kurang 'merakyat'.

Saya memang bukan praktisi aktif, dan kurang memiliki peran dan pengaruh di bidang bahasa. Namun, saya sangat peduli dan selalu menyempatkan diri untuk mengampanyekan penggunaan bahasa yang baik dan benar.

Saya pun selalu merasa pedantis ketika ada orang yang mengucapkan kata atau kalimat yang kurang benar tata bahasanya. Biasanya, kalau ia akrab, akan saya ingatkan. Ingatkan dengan kalimat sederhana saja, misalnya,"Eh, yang benar apotek, bukan apotik."

Sederhana, tanpa nada menggurui, apalagi menyalahkan. Mungkin seharusnya begitu.

Apakah ada yang menambahi?




Sunday, October 9, 2022

Mencintai Juga Bahasa

"Dia adalah suami yang sabar dan setia. Sungguh sempurna."


Jatuh cinta kepada orang yang sama berkali-kali itu benar adanya. Bukan perkara wajahnya yang rupawan, atau hartanya yang tiada batas. Ini sungguh perkara hati dan pikiran.

Iya, kan, suamiku yang sedang membaca? ^_^

Dia tidak mungkin menjadi pasangan yang sempurna seperti dalam mitos: rupawan, kaya, dan setia.

Tapi, kita bisa menemaninya menjadi sosok seperti itu. Mungkin.

Dan, perlu diketahui, definisi sempurna itu sangat personal. Definisi rupawan, kaya, dan setia adalah ambiguitas yang merebak sejak dahulu kala. Yang semakin bergeser maknanya, ketika seseorang menjadi lebih dewasa dan berpengalaman.

Bagi beberapa perempuan, termasuk diriku, sempurnanya seorang pasangan adalah melalui dua kata. Sabar dan setia.

Itu sangat berkaitan dengan pengalaman dan kepribadianku.

Dan pada tulisan ini, kuingin melukiskan sosok suamiku. Yang sempurnanya, mungkin tidak sempurna.


Dia sabar.

Di usia kepala dua, sudah kulihat puluhan laki-laki dengan berbagai kepribadian. Menurutku, laki-laki yang baik sudah pasti sabar. Sabar tidak hanya berarti jarang marah, suaranya lebih sering lembut, dan tidak pernah menggunakan kekerasan secara fisik.

Sabar juga berarti mau belajar memahami istri dan mengakui kesalahan.

Ya, memang tidak selalu. Tapi, ia sabar.

Mengarang Bebas Itu Tidak Apa-apa

Semasa duduk di bangku SD, ada suatu kalimat yang diucapkan guru wali kelas, yang masih terngiang sampai sekarang. "Jangan takut, Nak...