"Dia adalah suami yang sabar dan setia. Sungguh sempurna."
Jatuh cinta kepada orang yang sama berkali-kali itu benar adanya. Bukan perkara wajahnya yang rupawan, atau hartanya yang tiada batas. Ini sungguh perkara hati dan pikiran.
Iya, kan, suamiku yang sedang membaca? ^_^
Dia tidak mungkin menjadi pasangan yang sempurna seperti dalam mitos: rupawan, kaya, dan setia.
Tapi, kita bisa menemaninya menjadi sosok seperti itu. Mungkin.
Dan, perlu diketahui, definisi sempurna itu sangat personal. Definisi rupawan, kaya, dan setia adalah ambiguitas yang merebak sejak dahulu kala. Yang semakin bergeser maknanya, ketika seseorang menjadi lebih dewasa dan berpengalaman.
Bagi beberapa perempuan, termasuk diriku, sempurnanya seorang pasangan adalah melalui dua kata. Sabar dan setia.
Itu sangat berkaitan dengan pengalaman dan kepribadianku.
Dan pada tulisan ini, kuingin melukiskan sosok suamiku. Yang sempurnanya, mungkin tidak sempurna.
Dia sabar.
Di usia kepala dua, sudah kulihat puluhan laki-laki dengan berbagai kepribadian. Menurutku, laki-laki yang baik sudah pasti sabar. Sabar tidak hanya berarti jarang marah, suaranya lebih sering lembut, dan tidak pernah menggunakan kekerasan secara fisik.
Sabar juga berarti mau belajar memahami istri dan mengakui kesalahan.
Ya, memang tidak selalu. Tapi, ia sabar.
No comments:
Post a Comment