Friday, September 30, 2022

Rajin Membaca, karena Profesi?

"Apalagi usia."

Pagi tadi ada dialog yang menarik di antara seorang cucu perempuan dewasa dengan neneknya. Kurang lebih begini.

Nenek: Itu kotak coklat yang ada tulisan "Bir"-nya punya suamimu?
Cucu: Bukan. Itu kan oleh-oleh kemarin.
Nenek: Kok ada nama "Bir"? Jangan-jangan ada alkoholnya.
Cucu: Itu namanya Bir Pletok, tapi terbuat dari rempah-rempah.
Nenek: Oh ya? Hampir kubuang tadi.
Cucu: Baca dulu kotaknya, masa' apa-apa dibuang? Karena malas baca.
Nenek: Telingaku, lho berdengung dari kemarin. Jadi malas baca.
Cucu: Ya kalau sudah sembuh, baru baca. Jangan malas baca, nanti mudah ditipu orang.
Nenek: Halah. Malas aku ambil kacamata.
Cucu: Ya terus saja begitu. Malas baca tapi enggan diberitahu. Ngeyel.
Nenek: Memangnya aku guru? yang harus rajin baca? Orang tua, kok, disuruh baca.

Hm.



Ya, saya hanya berdehem saja. Lelah sendiri. Mungkin memang sulit menularkan semangat baca pada manula.

Untungnya, saya sudah suka dengan buku sejak membaca Kalilah dan Dimnah. Buku terjemahan berbahasa Melayu, yang sangat menarik untuk saya ketika masih duduk di kelas tiga SD.
Akibatnya, tidak sulit bagi saya untuk melahap banyak buku yang bahkan guru saya, belum pernah membacanya. Dari kebiasaan melahap tiga hingga empat buku berjumlah tidak lebih dari 120 halaman, saya jadi pecandu perpustakaan.
Di kelas 7, saya sudah membaca beberapa novel Mark Twain dan kumpulan sajak Chairil Anwar, sebelum guru saya mengenalkan saya dengan fiksi tingkat SMP.

Dari kebiasaan menjadi hobi, saya mulai mengoleksi buku dengan menabung untuk menyewa dan membeli buku kesukaan. Rerata memang fiksi, karena sejak awal saya memang suka membaca kisah.
Bahkan, saya memutuskan untuk mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, pun karena saya senang membaca.

Lihat, kan? Saya tidak harus menjadi guru untuk rajin membaca.
Ketika saya mengajar, saya menularkan hobi baca kepada siswa dengan cara yang sama. Membaca buku atau apapun, yang mereka sukai.

Nyatanya, itu benar-benar berhasil. Mereka yang suka melihat kartun, membaca komik. Mereka yang suka dengan olahraga, membaca tabloid olahraga, dan banyak lainnya.

Entah mengapa, ketika melihat sekumpulan anak membaca buku dengan tatapan kagum dan serius, adalah hal yang menyenangkan untuk saya. Rasanya seperti melihat diri sendiri.

source: http://pickenscountyfirststeps.org/


Ketika saya menyadari bahwa menularkan hobi baca kepada anak tidak sesulit seperti yang banyak dikeluhkan orang tua, saya mulai menyadari sesuatu. Orang tua itulah yang mungkin menjadi masalahnya.

Anak meniru dari orang tua. Rerata dari mereka menghabiskan waktu mereka di rumah. Jika ingin anaknya rajin membaca, bukankah orang tuanya juga harus demikian?

Menularkan hobi baca dari orang tua ke anak, sepertinya lebih mudah. Orang tua lebih berkuasa dan berpengaruh. Namun tidak sebaliknya.

Cukup sulit untuk menularkan hobi baca dari anak ke orang tua. Mungkin seperti saya.
Jadi, jangan kaitkan hobi baca dengan profesi, usia, apalagi genetik. TIdak ada hubungannya.

Meski, benar jika seorang guru memiliki kewajiban lebih untuk membaca dan menularkannya pada siswanya. Tapi, sebagai manusia beradab, yang memiliki mata dan akal yang sehat dan mampu mengenali huruf-huruf, membaca adalah hal yang biasa dan bukan hal yang sulit.

Menjadi tidak biasa bagi mereka yang mampu, tapi enggan membaca. Sungguh tidak biasa.
Membaca itu bukan beban. Membaca itu aktivitas yang menyenangkan dan bermanfaat.
Masih ragu untuk membaca?
Hm.

Mungkinkah pemerintah kita harus membuat program membaca untuk manula? Mungkin, dengan embel-embel: "Baca satu buku, dapatkan hadiah dengan nominal XXXX." (Bisa jadi sembako, uang tunai, sampai tiket liburan ke luar kota).
Sudah terbayang betapa sesaknya perpustakaan kota kita nanti.


Jika Anda mengaku cinta bahasa, membacalah. Karena setiap bahasa, diciptakan tidak hanya untuk berbicara atau mendengar, tetapi juga membaca.

Salam satu bahasa, Bahasa Indonesia.

No comments:

Post a Comment

Mengarang Bebas Itu Tidak Apa-apa

Semasa duduk di bangku SD, ada suatu kalimat yang diucapkan guru wali kelas, yang masih terngiang sampai sekarang. "Jangan takut, Nak...