Semasa duduk di bangku SD, ada suatu kalimat yang diucapkan guru wali kelas, yang masih terngiang sampai sekarang.
"Jangan takut, Nak. Pokoknya nulis, bebas. Bahasa Indonesia itu kuncinya mengarang. Mengarang bebas."
Dan, sampai saya duduk di Sekolah Menengah Atas, praktik atas kalimat itu, masih juga dilakukan. Ketika musim ujian, teman-teman saya paling santai di ujian mapel Bahasa Indonesia.
Alasannya, seperti yang guru saya bilang, Bahasa Indonesia itu mengarang bebas.
Lantas, apakah ini yang menjadi sebab nilai Ujian Nasional (UN) Bahasa Indonesia jarang sekali menang dari Bahasa Inggris?
Kita sudah mengenal Bahasa Indonesia sejak menyebut angka "satu", lho.
Sedangkan, tidak sedikit orang yang merasa repot untuk memulai belajar Bahasa Inggris, meski orang yang sama merasa bisa Bahasa Inggris itu lebih keren daripada Bahasa Indonesia.
Hm. Miris. Meremehkan, tapi tidak menguasai. Menyanjung, tapi enggan belajar.
Apa yang salah?
Mungkin banyak orang yang merasa mampu berbahasa Indonesia, namun mereka sekadar berbicara dalam Bahasa Indonesia, tapi tidak tahu sesuatu yang lebih dalam di baliknya.
Keyakinan akan "mampu berbahasa Indonesia" itu berlajut sampai dewasa. Tanpa mereka melakukan aktualisasi dalam kemampuan berbahasa mereka.
Benarkan begitu?
Rasanya, bisa jadi benar sekali. Seorang kenalan yang saya temui dalam perjalanan, pernah menanyakan hal yang sama, yang oleh puluhan orang lainnya pun bertanya: "Mengapa Bahasa Indonesia?"
Alih-alih mendukung pilihan saya karena saya berniat sungguh untuk belajar Bahasa Indonesia, mereka justru mempertanyakan, seakan memberi sugesti bahwa saya sepatutnya memilih jurusan lain yang "lebih baik dari Bahasa Indonesia".
Saya selalu menjawab ringan: "Karena saya suka Bahasa Indonesia."
Sebenarnya, itu alasan pertama yang sederhana. Ada lebih banyak alasan yang membuat saya memutuskan untuk memilih Bahasa Indonesia.
Satu di antaranya yang paling menarik, karena Bahasa Indonesia itu berkembang.
Tidak banyak yang tahu, sekitar dua bulan sebelum pengumuman hasil UN, saya sudah merasa mantap untuk memilih jurusan Bahasa Inggris. Alasannya, karena saya suka belajar Bahasa Inggris sejak saya bisa mengucapkan "How do you do, Mr. Johnson?" di kelas 4 SD, dan nilai Bahasa Inggris saya selalu berada di lingkar tiga besar teratas di setiap ujian sekolah.
Perubahan keputusan saya alami ketika mengetahui nilai UN Bahasa Indonesia saya, tidak lebih baik dari Bahasa Inggris dan IPA (tidak perlu tanya nilai Matematika, ya). Banyak teman juga mengalami hal serupa.
Merenung. Merenung. Merenung.
"Padahal saya sudah belajar. Saya yakin jawaban saya benar. Tapi, mengapa nilainya tidak sesuai harapan?"
Artinya, hanya satu. Jawaban UN Bahasa Indonesia saya, banyak yang salah.
Sedihnya, dalam UN tidak ada uji praktik mengarang. Coba kalau ada, saya dan teman-teman saya mungkin mendapat nilai lebih baik.
Kalimat "Bahasa Indonesia itu mudah, hanya perlu mengarang bebas", itu tidak 100% benar, Kawan.
Hal itu menjadi benar untuk bab sastra, seperti puisi, cerpen, dan fiksi sejenisnya.
Di lain hal, kita tidak bisa mengarang bebas untuk bab penyusunan laporan hasil observasi, penyusunan teks biografi tokoh nasional, dan teks-teks lain yang membutuhkan keterampilan menulis berdasarkan fakta.
Lihat, kan? Bahasa Indonesia itu luas.
Bukan sekadar berbicara dan mengarang bebas.
Bahkan, mengarang pun ada teknik dan caranya. Tidak sekadar menulis kalimat dengan kosakata yang kalian tahu, tetapi tidak tahu benar-tidaknya.
Jadi, berhenti meremehkan sesuatu yang kalian tidak kuasai, yang kalian enggan pelajari, dan jangan menyamakannya dengan sesuatu yang berbeda sama sekali.
Simpulannya, mengarang bebas itu tidak apa-apa. Sungguh tidak apa-apa.
Namun, belajarlah lebih banyak agar tahu bahwa sesuatu yang tampak mudah, sekalipun sudah kita kenal sejak bertahun-tahun lalu, sesungguhnya mengalami perubahan dan menjadi berbeda, seiirng dengan perkembangan zaman.
Salam Satu Bahasa, Bahasa Indonesia.
No comments:
Post a Comment