Ya, warganet. Bahasa bukan sekadar enak didengar. Meski sebenarnya saya juga pernah menerapkan teori enak didengar untuk menjawab beberapa soal dalam ujian Bahasa Inggris. Tapi, warganet, itu salah. Jadi, jangan diterapkan dalam Bahasa Indonesia, ya.
Bahasa itu sifatnya arbitrer. Tahu apa itu arbitrer?
Menurut KBBI, arbitrer artinya sewenang-wenang atau manasuka. Maksudnya, bahasa pada awal mulanya dibentuk, dibuat, diciptakan, dengan manasuka. Siapa yang suka? Tentu para pendahulu kita. Jangan tanya siapa mereka, Anda punya koneksi internet, kan? Nah, silakan cari sendiri sejarahnya. Belajar rajin membaca ya, gaes.
Selanjutnya, sifat arbitrer itu berkembang dan dibuatlah aturan dasar dalam pembentukan sebuah bahasa. Yang tentunya, ada regulatornya. Ya, di Indonesia namanya Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa atau yang sering disebut Badan Bahasa.
Menariknya, Bahasa Indonesia itu berkembang, lho. Ini yang menjadi alasan saya memilih jurusan Bahasa Indonesia ketika kuliah S1, padahal nilai Bahasa Indonesia saya ketika UN tidak sebaik Bahasa Inggris.
Peneliti dan akademisi di bidang bahasa melakukan banyak riset hingga menciptakan kesesuaian bahasa yang pas untuk kita. Nah, mengapa kita tidak menggunakannya dengan baik dan benar?
Menyoal bahasa ini, saya jadi teringat sebuah kisah dari seorang kenalan, sesama anak bahasa. Ketika dia mengingatkan temannya tentang "apotek" bukan "apotik", si teman itu dengan polosnya bertanya: "Ya, makanya. Kenapa apotek? Bukan apotik? Lebih enak bilang apotik daripada apotek."
Banyak kosakata dalam Bahasa Indonesia yang diserap dalam bahasa asing. Proses penyerapannya itu tidak semudah spons menyerap air. Panjang. Mau tahu lagi? Baca. Bisa sampai seminggu kalau saya jelaskan di sini.
Intinya, sebuah kata itu tidak bisa berubah sekejap mata menjadi sesuatu yang lain hanya berdasarkan alasan "enak didengar". Kita pun harus melihat turunan dari kata itu, dari yang awalnya kata dasar, menjadi kata berimbuhan, berawalan, berakhiran, kata keterangan, sampai pada taraf posisi kata (frasa) ketika sudah menjadi kalimat dengan kata-kata lainnya.
Lalu, bagaimana kita bisa mengetahui bahasa yang kita gunakan benar atau salah? Sering-seringlah membaca koran dari penerbit, sering membaca buku, danberkunjung ke situs badan bahasa. Juga, kalau Anda pegiat media sosial, silakan ikuti akun milik pegiat bahasa seperti om ganteng Ivan Lanin. Oh, beliau sangat aktual (up to date) dalam pengetahuan bahasa.
Dan yang paling penting, jadilah orang kepo. Pertanyakan kata atau kalimat yang Anda dengar, baca, atau ucapkan. Jika Anda tidak memiliki jiwa yang kepo, mana mungkin Anda mau meluangkan waktu untuk mengecek kebenaran suatu kosakata melalui KBBI? atau membaca artikel tentang bahasa di waktu istirahat? Ya, seperti sekarang. Anda sedang kepo, maka Anda mencari tahu, membaca, dan akhirnya memahami.
Kalau belum paham? Bertanya pada ahlinya dan membaca buku yang membahas tentang pertanyaan Anda. Dunia sudah semakin luas dan terbuka.
Tidak rugi, kok, belajar bahasa.
Jadi, kalau ada teman Anda yang bertanya, "Kenapa apotek? Bukan apotik? Lebih enak bilang apotik daripada apotek", minta dia untuk membaca. Bukan hanya protes, meremehkan, tapi malas membaca.
Oke?
Jangan lupa belajar bahasa hari ini, ya!
Salam satu bahasa, Bahasa Indonesia.

No comments:
Post a Comment