Tuesday, February 19, 2019

Mengapa Ini? Mengapa Bukan Itu?

"Ya, makanya. Kenapa apotek? Bukan apotik? Lebih enak bilang apotik daripada apotek."






Ya, warganet. Bahasa bukan sekadar enak didengar. Meski sebenarnya saya juga pernah menerapkan teori enak didengar untuk menjawab beberapa soal dalam ujian Bahasa Inggris. Tapi, warganet, itu salah. Jadi, jangan diterapkan dalam Bahasa Indonesia, ya.

Bahasa itu sifatnya arbitrer. Tahu apa itu arbitrer?


Berbahasa Benar, Berbahasa Senang



sumber: http://diktinews.com/wp-content/uploads/2017/03/tetap-tenang-dan-belajar-bahasa-indonesia.png



"Halah, repot. Masa' kalau mau ngobrol harus buka KBBI dulu?"


Banyak orang yang merasa risih ketika diminta untuk memperbaiki kebiasaan yang salah. Di lain hal, mereka lupa, bahwa membenarkan sesuatu yang salah itu "bukan" tidak bisa. Sulit. Hanya mereka saja, yang berniat atau tidak.

Satu contoh konkretnya adalah berbahasa.

Padahal, mereka berbahasa setiap hari, lho. Meraung-raung tentang nasionalisme, tentang cinta tanah air, tapi apa? Diberitahu kebenaran tentang bahasa (yang adalah bagian dari tanah air) saja, malas mendengarkan. Bukan lagi masalah malas melakukan pembenaran, tapi malas mendengarkan. Sudah malas mendengar, malas mencari tahu pula.

Ya, memang tidak semua orang begitu. Kalau Anda bukan orang yang seperti itu ya, Alhamdulillah. Puji Tuhan.

Contohnya, sekumpulan anak muda yang sedang berpendidikan. Mereka bukan anak bahasa atau sastra, tapi mereka orang Indonesia yang tinggal di Indonesia. Satu dari beberapa golongan, yang memiliki sifat ngeyel.






Mengarang Bebas Itu Tidak Apa-apa

Semasa duduk di bangku SD, ada suatu kalimat yang diucapkan guru wali kelas, yang masih terngiang sampai sekarang. "Jangan takut, Nak...